Ini Batas Waktu Bekerja yang Aman bagi Jantung

Baca Juga: Aktivitas Fisik yang Pas untuk Penderita Gangguan Jantung



Rata-rata pekerja menghabiskan waktu 40 jam seminggu untuk bekerja. Belum lagi, banyak pegawai yang lembur dan menghabiskan lebih banyak waktu lagi untuk bekerja.

Sayangnya, bekerja terlalu lama menempatkan Anda dalam bahaya. Sebuah studi baru yang diterbitkan dalam European Heart Journal mengatakan, bekerja dalam waktu lama bisa meningkatkan risiko individu mengalami gangguan jantung fibrilasi atrium, mengutip Men's Health, Selasa (18/7/2017).

Setelah menyurvei 85.000 pekerja dewasa tentang berapa lama waktu kerja mereka dalam seminggu, para peneliti menemukan, mereka yang bekerja lebih dari 55 jam dalam satu minggu lebih mungkin didiagnosis dengan fibrilasi atrium, dibandingkan dengan pegawai yang bekerja hanya sekitar 35-40 jam seminggu.

Yang lebih buruknya, sembilan dari 10 kasus fibrilasi atrium terjadi pada orang yang belum pernah memiliki masalah atau penyakit jantung sebelumnya. Hal ini menyiratkan, risiko baru ini muncul akibat bekerja terlalu lama--dan bukan karena masalah jantung yang sebelumnya memang sudah ada.

Fibrilasi atrium, atau detak jantung tidak teratur, terjadi ketika dua kamar atas jantung berdetak tidak serasi dengan dua kamar bawahnya. Detak yang tidak teratur ini bisa menyebabkan darah mengumpul, membentuk penyumbatan yang bisa berujung pada stroke.

Jika tidak dikontrol, fibrilasi atrium juga bisa melemahkan jantung dan berujung pada gagal jantung.

Beberapa orang dengan fibrilasi atrium tidak memiliki simtom apa-apa. Namun, mereka yang memiliki simtom sering melaporkan palpitasi jantung, alias rasa ketika jantung Anda berdebar sangat cepat, lemah, lelah, keliyengan, dan napas pendek.

Para peneliti tidak yakin bagaimana bekerja terlalu lama bisa berkontribusi terhadap fibrilasi atrium. Namun, mereka yakin, waktu bekerja bisa mengacaukan sistem saraf otomatis, yang akan meningkatkan risiko fibrilasi atrium.

Belum lagi, mereka yang bekerja terlalu lama juga biasanya memiliki faktor risiko fibrilasi atrium yang lebih tradisional, seperti obesitas, merokok, tidak aktif secara fisik, dan pengonsumsian alkohol yang tinggi. 
Back To Top